Langsung ke konten utama

Narasi Hujan



Kudengar gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Aku masih kurang percaya, apa aku menjadi salah satu korbannya.

Sejujurnya aku tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Aku lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu aku inginkan.

Walaupun begitu, aku tidak sepenuhnya membenci cuaca ini. Setidaknya dulu ia pernah menghentikan aku denganmu dalam satu waktu. Aku malu karena akhirnya aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku kala itu. Betapa tidak. Aku tidak sepemberani anak yang lain ketika merasakan hujan. Aku cukup ketakutan sehingga aku selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Sekali lagi aku malu. Semua terlihat jelas di matamu. Tak banyak berkutik, aku akui kelemahanku. Tak apa, kau sudah tahu. Tak apa, karena itu dirimu.

Ketakutan akhirnya mencair. Ternyata berbincang satu sama lain terasa menenangkan. Kini aku bisa menepis anggapan bahwa aku pendiam. Kau tahu, aku lebih cerewet dari yang kau duga. Aku hanya tidak biasa banyak bercakap dengan orang yang kurang dekat. Terimakasih sudah banyak berbagi cerita denganku. Beruntungnya aku.

Bukan lagi menjadi satu hal yang menakutkan, hujan kini selalu aku rindukan. Bersamamu. Andaikan aku bersama hujan, apakah kau akan tetap berusaha menenangkan?



ditulis di dago yang hanya mendung namun tak hujan
3/9/18
21.54


Komentar

Popular Posts

TENTANG SAYA

Perkenalkan nama saya Eyun Setian. Saya berasal dari kota kecil sebelum Yogyakarta, yaitu tepatnya di Kabupaten Purworejo. Seorang mantan siswa jurusan IPA yang berkesempatan mengenyam pendidikan kuliah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Saya  astraphobia  dan sangat menyukai doraemon. Tertarik dengan desain grafis walaupun masih dalam tahap belajar. Begitu menyukai sastra sejak awal bangku sekolah. Penikmat semua lagu Sheila on 7. "Sedang berjuang membahagiakan orang tua dan merealisasikan banyak mimpi"

Semusim

Mengingat kembali kenangan pernikahan kami yang sederhana namun penuh makna. Desember tahun lalu menjadi bulan yang begitu berkesan bagi kami berdua. Butuh keberanian dan nyali yang tinggi saat akhirnya kami sepakat menikah di tahun kemarin. Kondisi kami berdua yang bekerja di luar kota dan jarak antar keluarga yang lumayan jauh menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sebuah mimpi sederhana saya ketika menikah adalah mempunyai gaun pengantin sendiri sehingga mempunyai kenang-kenangan tersendiri tentunya. Selain itu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikah didampingi dengan ibu saya, walaupun sebulan setelah pernikahan akhirnya beliau berpamit. Berbekal doa dan ikhtiar kami, pernikahan yang sederhana namun penuh makna bisa kami selenggarakan. Tepat setahun lalu, kami berdua menjadi sepasang suami istri. Target saya menikah di usia 25 tahun juga tanpa diduga bisa terlaksana. Alhamdulillah, berkat doa dan bantuan orang-orang baik di sekitar, kami bisa menyiapkan sep...