Langsung ke konten utama

Not just poetry

Seperti lembaran kertas putih yang masih bersih tanpa pena
Mungkin seperti itulah kami saat pertama
Ketika kami masih kosong
Mencoba mencari jati diri yang sebenarnya
Saat waktu semakin bergulir
Sosok mu yang bijaksana mulai meraih tangan kami
Mencoba melukis dengan sebuah pena
Berharap kami dapat segera menjadi lebih dewasa
Hampir setiap hari kami berjumpa
Bertatap muka, bertegur sapa
Seorang guru yang membimbing kami
Memberikan segala kemampuannya demi kami
Dengan teriring doa ketika nanti kami dewasa
Dapat mengamalkan ilmu yang telah beliau sampaikan
Menjadi generasi muda yang benar benar tahu langkah dan tujuan
Tak terkira ucapan terima kasih kami sampaikan
Kepada Bapak/Ibu guru semua
Yang telah menuntun kami, membimbing kami
Dan kini tiba saatnya
Saat kami sudah berada di sebuah gerbang
Yang akan membawa kami ke dalam lingkup yang lebih luas
Menjadi bibit bibit bangsa yang unggul
Yang akan menjunjung etika dan budaya
Bapak/Ibu guru semua
Tiga tahun sudah kami melewati
Masa masa indah disini
Sehingga mungkin ada banyak tingkah laku yang tidak berkenan di hati
Dengan hati yang tulus dari sanubari yang terdalam kami meminta maaf
Dan kami juga mohon doa agar kami dapat lulus dengan nilai yang memuaskan
Dapat membanggakan Bapak/Ibu guru
Akhir kata, sekali lagi kami berterima kasih kepada semua pihak yang membimbing, membantu, dan mendorong semangat kami hingga kami dapat berdiri di kelas puncak ini.
Tanpa kalian semua kami tentu bukan apa apa
SMA 7 JAYA


 *Puisi ini disampaikan saat Gelar Karya Siswa SMA Negeri 7 Purworejo Tahun 2014 sebagai persembahan dari kelas XII IPA 6*

Komentar

Popular Posts

Narasi Hujan

Kudengar gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Aku masih kurang percaya, apa aku menjadi salah satu korbannya. Sejujurnya aku tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Aku lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu aku inginkan. Walaupun begitu, aku tidak sepenuhnya membenci cuaca ini. Setidaknya dulu ia pernah menghentikan aku denganmu dalam satu waktu. Aku malu karena akhirnya aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku kala itu. Betapa tidak. Aku tidak sepemberani anak yang lain ketika merasakan hujan. Aku cukup ketakutan sehingga aku selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Sekali lagi aku malu. Semua terlihat jelas di matamu. Tak banyak berkutik, a...

Memaknai Kehilangan

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang tentang penghambaan seorang manusia kepada Yang Maha Kuasa. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Menyadarkan bahwa kehidupan di dunia ini memanglah tiada yang abadi. Januari menjadi bulan yang berat bagiku. Bagaimana tidak? Ibuku yang teramat aku sayangi meninggalkanku. Sudah cukup waktunya berada di dunia hingga akhirnya beliau pamit untuk bertemu dengan Allah Sang Pencipta. Mungkin satu hal yang tidak akan aku sesali sepanjang hidupku adalah, di saat-saat terakhir beliau aku mendampingi selalu dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Maafkan putrimu bu, yang mungkin tak banyak memiliki waktu sebelumnya denganmu. Namun, janganlah bersedih ataupun kecewa bu, karena aku masih tetap sama menjadi putri kecilmu. Sampai detik ini pun aku masih selalu berusaha menjadi anak yang berbakti kepadamu. Senyum yang teramat cantik terkembang dalam balutan kain kafan ibuku. Mas Agung, suamiku, sempat berkata “Mamak udah tenang ndaa. Mamak cantik bang...

Semusim

Mengingat kembali kenangan pernikahan kami yang sederhana namun penuh makna. Desember tahun lalu menjadi bulan yang begitu berkesan bagi kami berdua. Butuh keberanian dan nyali yang tinggi saat akhirnya kami sepakat menikah di tahun kemarin. Kondisi kami berdua yang bekerja di luar kota dan jarak antar keluarga yang lumayan jauh menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sebuah mimpi sederhana saya ketika menikah adalah mempunyai gaun pengantin sendiri sehingga mempunyai kenang-kenangan tersendiri tentunya. Selain itu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikah didampingi dengan ibu saya, walaupun sebulan setelah pernikahan akhirnya beliau berpamit. Berbekal doa dan ikhtiar kami, pernikahan yang sederhana namun penuh makna bisa kami selenggarakan. Tepat setahun lalu, kami berdua menjadi sepasang suami istri. Target saya menikah di usia 25 tahun juga tanpa diduga bisa terlaksana. Alhamdulillah, berkat doa dan bantuan orang-orang baik di sekitar, kami bisa menyiapkan sep...