Langsung ke konten utama

Menikmati Jeda

Kalimat ini terangkai dengan baik dan bisa saat ini terbaca karena sebuah jeda. Pelajaran hidup yang sangat baik aku ambil dari setiap kali aku menuliskan kalimat. Mengapa tulisan ini bisa akhirnya kau pahami adalah karena setiap kata yang terangkai ada spasi yang memberi sedikit ruang. Memaknai suatu hal memang perlu didalami satu-satu. Tak layak bukan, jika seluruh kata berduyun-duyun tanpa ada pemisah?

Mencoba menilik kembali judul tulisan ini. Hmm, aku sepertinya sudah terlalu lama tak bermuhasabah diri. Mari coba kita merefleksikan sejauh mana sudah tumbuh berkembang.

Hidup sejatinya adalah perjalanan panjang dimana selalu ada ujung dan pangkal. Bahwa sebuah permulaan suatu zat diciptakan selalu memiliki tujuan pada akhirnya. Seringkali, tak banyak orang benar-benar memahami makna dari istirahat. Mulai menepi pada huru hara aktivitas dunia sebaiknya memang lebih baik untuk sering kita lakukan. Aku mencoba memaknai jeda untuk setiap rangkaian cerita hidupku. Tarik nafas dalam-dalam, sesungguhnya apa sih yang dicari?

Mengutip pesan Cak Nun yang kudapat dari seseorang yang berbaik hati  mengingatkan :

Jangan pernah mati-matian hanya untuk mengejar sesuatu yang tidak dibawa mati.

Rasanya seperti tertampar. Hmm, aku menyadari bahwa terkadang juga seringkali khilaf. Lupa bahwasanya dunia tak perlu dikejar. Ia tak pernah kemana-mana, ambisi manusia saja yang sering berlebihan dan tak jarang membutakan semua.

Jika kehidupan ini adalah sebuah narasi panjang yang masing-masing manusia coba tuliskan, bukankah lebih indah apabila setiap kali kalimat memiliki jeda? Sepertinya setiap manusia akan lebih mendalami maknanya sebagai makhluk mulia yang diciptakan oleh Tuhan.


sedang mengingatkan sendiri-

Karanganyar, 16 September 2020 

20.54 WIB 

Komentar

Popular Posts

Narasi Hujan

Kudengar gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Aku masih kurang percaya, apa aku menjadi salah satu korbannya. Sejujurnya aku tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Aku lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu aku inginkan. Walaupun begitu, aku tidak sepenuhnya membenci cuaca ini. Setidaknya dulu ia pernah menghentikan aku denganmu dalam satu waktu. Aku malu karena akhirnya aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku kala itu. Betapa tidak. Aku tidak sepemberani anak yang lain ketika merasakan hujan. Aku cukup ketakutan sehingga aku selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Sekali lagi aku malu. Semua terlihat jelas di matamu. Tak banyak berkutik, a...

TENTANG SAYA

Perkenalkan nama saya Eyun Setian. Saya berasal dari kota kecil sebelum Yogyakarta, yaitu tepatnya di Kabupaten Purworejo. Seorang mantan siswa jurusan IPA yang berkesempatan mengenyam pendidikan kuliah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Saya  astraphobia  dan sangat menyukai doraemon. Tertarik dengan desain grafis walaupun masih dalam tahap belajar. Begitu menyukai sastra sejak awal bangku sekolah. Penikmat semua lagu Sheila on 7. "Sedang berjuang membahagiakan orang tua dan merealisasikan banyak mimpi"

Semusim

Mengingat kembali kenangan pernikahan kami yang sederhana namun penuh makna. Desember tahun lalu menjadi bulan yang begitu berkesan bagi kami berdua. Butuh keberanian dan nyali yang tinggi saat akhirnya kami sepakat menikah di tahun kemarin. Kondisi kami berdua yang bekerja di luar kota dan jarak antar keluarga yang lumayan jauh menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sebuah mimpi sederhana saya ketika menikah adalah mempunyai gaun pengantin sendiri sehingga mempunyai kenang-kenangan tersendiri tentunya. Selain itu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikah didampingi dengan ibu saya, walaupun sebulan setelah pernikahan akhirnya beliau berpamit. Berbekal doa dan ikhtiar kami, pernikahan yang sederhana namun penuh makna bisa kami selenggarakan. Tepat setahun lalu, kami berdua menjadi sepasang suami istri. Target saya menikah di usia 25 tahun juga tanpa diduga bisa terlaksana. Alhamdulillah, berkat doa dan bantuan orang-orang baik di sekitar, kami bisa menyiapkan sep...