Langsung ke konten utama

Memaknai Kehilangan


Hidup adalah sebuah perjalanan panjang tentang penghambaan seorang manusia kepada Yang Maha Kuasa. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Menyadarkan bahwa kehidupan di dunia ini memanglah tiada yang abadi.

Januari menjadi bulan yang berat bagiku. Bagaimana tidak? Ibuku yang teramat aku sayangi meninggalkanku. Sudah cukup waktunya berada di dunia hingga akhirnya beliau pamit untuk bertemu dengan Allah Sang Pencipta.

Mungkin satu hal yang tidak akan aku sesali sepanjang hidupku adalah, di saat-saat terakhir beliau aku mendampingi selalu dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Maafkan putrimu bu, yang mungkin tak banyak memiliki waktu sebelumnya denganmu. Namun, janganlah bersedih ataupun kecewa bu, karena aku masih tetap sama menjadi putri kecilmu. Sampai detik ini pun aku masih selalu berusaha menjadi anak yang berbakti kepadamu.

Senyum yang teramat cantik terkembang dalam balutan kain kafan ibuku. Mas Agung, suamiku, sempat berkata “Mamak udah tenang ndaa. Mamak cantik banget senyumnya. Ikhlasin ya..”

Walaupun memang tak ada yang baik-baik saja dengan perpisahan, aku tetap mengikhlaskan kepergian beliau. Aku percaya ibuku memang sudah waktunya meninggalkanku. Beliau mungkin sudah tahu bahwa kini anaknya sudah bisa mandiri, beliau juga sudah melihat putrinya kini dibersamai dengan laki-laki yang baik.

Sebelum kepergianmu bu, hal yang paling membuatku bisa mengikhlaskanmu adalah impian-impian yang dulu sempat diinginkan ibu kini bisa aku capai. Pernikahanku tetap didampiingi dan disaksikan olehmu. Ibu ingin aku segera menikah jika memang sudah sama-sama cocok. Tak apa sederhana saja, karena sejatinya kita hanya mengharap ridho dan keberkahan dari Allah Ta’ala. Pernikahanku terlaksana 8 Desember 2021 bersama dengan laki-laki yang mencintaiku pun begitu juga aku. Ibu adalah orang yang sangat bahagia dan bangga melihat anaknya bisa menemukan pendamping hidup yang setia.

Beberapa kabar baik setelah pernikahanku menjadi kado terbaik sebelum ibu akhirnya meninggalkanku. Tepat di 24 Desember 2021 pengumuman seleksi CPNS keluar. Alhamdulillah, hasil yang membahagiakan ketika akhirnya aku bisa diterima sebagai calon pegawai negeri sipil di Kota Salatiga. Ingat betul saat itu ibu melihatku kegirangan membaca pengumuman itu sampai akhirnya aku tak kuasa memeluk ibu saking bahagianya.

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya". (HR. Al Bukhari Muslim)

Tepat di awal Januari ibuku dilahirkan dan di bulan Januari pula ibuku meninggalkan kehidupan. Sakit yang engkau rasa bu semoga menjadi penggugur dosa. Tidak sampai kata-kataku mendeskripsikan segala cinta dan kasihnya selama ini kecuali hanya dengan doa semoga Surga menjadi tempatnya kelak nanti di akhirat. Semoga Allah menempatkan ibu di tempat terbaik di sisiNya. Aamiin.


Salatiga, 24 Mei 2022

Komentar

Popular Posts

Narasi Hujan

Kudengar gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Aku masih kurang percaya, apa aku menjadi salah satu korbannya. Sejujurnya aku tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Aku lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu aku inginkan. Walaupun begitu, aku tidak sepenuhnya membenci cuaca ini. Setidaknya dulu ia pernah menghentikan aku denganmu dalam satu waktu. Aku malu karena akhirnya aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku kala itu. Betapa tidak. Aku tidak sepemberani anak yang lain ketika merasakan hujan. Aku cukup ketakutan sehingga aku selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Sekali lagi aku malu. Semua terlihat jelas di matamu. Tak banyak berkutik, a...

Semusim

Mengingat kembali kenangan pernikahan kami yang sederhana namun penuh makna. Desember tahun lalu menjadi bulan yang begitu berkesan bagi kami berdua. Butuh keberanian dan nyali yang tinggi saat akhirnya kami sepakat menikah di tahun kemarin. Kondisi kami berdua yang bekerja di luar kota dan jarak antar keluarga yang lumayan jauh menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sebuah mimpi sederhana saya ketika menikah adalah mempunyai gaun pengantin sendiri sehingga mempunyai kenang-kenangan tersendiri tentunya. Selain itu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikah didampingi dengan ibu saya, walaupun sebulan setelah pernikahan akhirnya beliau berpamit. Berbekal doa dan ikhtiar kami, pernikahan yang sederhana namun penuh makna bisa kami selenggarakan. Tepat setahun lalu, kami berdua menjadi sepasang suami istri. Target saya menikah di usia 25 tahun juga tanpa diduga bisa terlaksana. Alhamdulillah, berkat doa dan bantuan orang-orang baik di sekitar, kami bisa menyiapkan sep...