Langsung ke konten utama

Ramadhan di Bandung

Assalamualaikum teman-teman.
Sudah lama saya tidak memposting apapun di blog ini. Memang beberapa tulisan saya tidak sempat dituliskan di blog, hanya lewat status facebook atau arsip di laptop saja. Sempat lupa kalau punya blog malah haaaha
Teman-teman, saat ini bulan puasa. Alhamdulillah, kita bisa diberi kesempatan untuk bertemu di Bulan Ramadhan yang berkah ini. Sudah sampai ke 20 Ramadhan. Minggu-minggu terakhir di bulan Ramadhan dan posisi saya masih di bandung. Tak apa, semua ini ikhtiar saya untuk masa depan saya yang lebih baik. Oh iya, semester kemarin saya telah melewati Praktikum I. Suka duka selama berpraktek di kelurahan telah saya lewati bersama teman-teman kelompok yang sangat solid kurang lebih 3,5 bulan ini. Dan tanpa saya sadari, saya sudah beranjak lebih dewasa dari yang saya duga.
Sudah memasuki penghujung semester 6, dan saya masih saja berpikir. Berapa banyak biaya, tenaga dan pikiran yang telah ibu saya berikan untuk melihat saya sampai di detik ini. Ahh, saya kadang sedih sendiri. Sampai di usia yang mau menginjak 21 ini saya belum bisa membalas apapun dengan beliau. Entah kenapa bulan ramadhan ini saya sangat rindu rumah. Mungkin memang sebelumnya belum pernah saya sampai berlama-lama di bandung selama bulan Ramadhan. Namun, karena tuntutan sebagai mahasiswa (katanya) jadi mau tidak mau saya harus stay disini. 
Semangat yun, perjuanganmu belum selesai, mari wujudkan semua mimpi-mimpi yang pernah kau janjikan. 

bu, putri kecilmu kini telah tumbuh dewasatak ada lagi seorang anak berkepang dua dengan pita merah mudaia tlah berproses seiring usiadulu dibawah langit kamar, engkau seringkali mendongeng ceritatentang bagaimana kelak putrimu harus menghadapi duniaentah mengapa, seakan kau begitu tahu segalanyamemang benar bu, segala yang kau katawalaupun kecil, putrimu ini harus sekuat bajakarena dunia kadang terlalu membaraputri kecilmu harus tetap terjaga

Komentar

Popular Posts

Narasi Hujan

Kudengar gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Aku masih kurang percaya, apa aku menjadi salah satu korbannya. Sejujurnya aku tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Aku lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu aku inginkan. Walaupun begitu, aku tidak sepenuhnya membenci cuaca ini. Setidaknya dulu ia pernah menghentikan aku denganmu dalam satu waktu. Aku malu karena akhirnya aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku kala itu. Betapa tidak. Aku tidak sepemberani anak yang lain ketika merasakan hujan. Aku cukup ketakutan sehingga aku selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Sekali lagi aku malu. Semua terlihat jelas di matamu. Tak banyak berkutik, a...

TENTANG SAYA

Perkenalkan nama saya Eyun Setian. Saya berasal dari kota kecil sebelum Yogyakarta, yaitu tepatnya di Kabupaten Purworejo. Seorang mantan siswa jurusan IPA yang berkesempatan mengenyam pendidikan kuliah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Saya  astraphobia  dan sangat menyukai doraemon. Tertarik dengan desain grafis walaupun masih dalam tahap belajar. Begitu menyukai sastra sejak awal bangku sekolah. Penikmat semua lagu Sheila on 7. "Sedang berjuang membahagiakan orang tua dan merealisasikan banyak mimpi"

Semusim

Mengingat kembali kenangan pernikahan kami yang sederhana namun penuh makna. Desember tahun lalu menjadi bulan yang begitu berkesan bagi kami berdua. Butuh keberanian dan nyali yang tinggi saat akhirnya kami sepakat menikah di tahun kemarin. Kondisi kami berdua yang bekerja di luar kota dan jarak antar keluarga yang lumayan jauh menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sebuah mimpi sederhana saya ketika menikah adalah mempunyai gaun pengantin sendiri sehingga mempunyai kenang-kenangan tersendiri tentunya. Selain itu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikah didampingi dengan ibu saya, walaupun sebulan setelah pernikahan akhirnya beliau berpamit. Berbekal doa dan ikhtiar kami, pernikahan yang sederhana namun penuh makna bisa kami selenggarakan. Tepat setahun lalu, kami berdua menjadi sepasang suami istri. Target saya menikah di usia 25 tahun juga tanpa diduga bisa terlaksana. Alhamdulillah, berkat doa dan bantuan orang-orang baik di sekitar, kami bisa menyiapkan sep...