Pernah
dengar pepatah “jodoh adalah cerminan diri”?
Hmm,
belakangan ini pepatah tersebut serasa menjadi cambuk yang begitu keras
menamparku. Mengapa? Ketika kau berharap muluk-muluk tentang bagaimana jodohmu
kelak, namun dari diri kamu sendiri tidak menunjukkan sesuatu yang bisa
meyakinkan bahwa memang benar kamu pantas untuk berjodoh dengan dia. Hmmm... Ironi,
bukan?
Mungkin,
ada beberapa yang telah mengenalku sebelumnya. Aku dilahirkan di sebuah
keluarga kecil yang sederhana. TK, SD, SMP, SMA aku sama seperti kebanyakan orang lain. Berusaha
berbaur dengan dinamika di lingkungan, berinteraksi dengan sebaya, yaa selayaknya
anak-anak yang tumbuh dewasa.
Saat
SD, ketika pelajaran yang sulit hanya sekedar menghitung perkalian dan
pembagian atau menghafal anatomi tubuh. Ketika kebanyakan anak-anak SD sangat
bangga dengan tidak bosan-bosannya mendapat peringkat atau mengikuti berbagai
perlombaan. Hahaha, aku pernah melewati masa-masa paling bodoh mungkin. Sejenak
mengenang masa SDku dulu, seperti ibuku bilang :
“Yun, tak critani yoo, mbiyen ki ditakoni bu guru entuk rangking piro. Entuk rangking 12, senenge ra karuan. Jarene kowe yo yun, yo bene 12 luwih akeh seko 1 kok mak”
Wkwk,
konyol. Sangat konyol. Polos yah aku dulu. Setidaknya pelajaran matematika
tentang satuan angka yang lebih besar sangat aku pahami mungkin, sehingga aku
menyepadankan dengan rangking yang aku dapat. Tapi, seiring berjalannya waktu
aku mulai tumbuh lebih mengerti, setidaknya aku harus jadi anak yang baik dan
pintar. Lalu perlahan waktu membantuku untuk bisa lebih bersaing dengan teman
kelasku. Dari semula kelas 1 semester 1 mendapat rangking 12 naik lah menjadi
rangking 6, kemudian melejit saat kelas 2 yang akhirnya aku bisa setiap tahun
selalu mendapat peringkat 3 besar di kelas. Bhak. Signifikan yaah. Dari yang
tak pernah dilirik oleh guru untuk diikutkan di perlombaan, sampai akhirnya aku
bisa ikut pesta siaga dan lomba menggambar (terimakasih pak guru, setidaknya
aku bisa tahu aku punya bakat menggambar hahahaha). Sesederhana itu.
Kebahagiaanku yang akan selalu kukenang sampai nanti aku punya cucu, ketika
pembagian hadiah saat kenaikan kelas, wali kelas bilang : “Peringkat satu
diraih oleh Ananda Eyun Setian” (prok prok prok). Lalu, aku selalu tidak
khawatir bagaimana keperluan bukutulisku, karena hadiah dari setiap semester
pasti satu pack buku wkwk. Yang aku pikirkan saat pergantian semester adalah
“mau beli pita rambut warna baru ahh”. Perlu diketahui aku dulu paling suka
pakai pita, dengan kucir dua kanan dan kiri. Biru, pink dan merah warna pitaku.
(Oke sebenarnya ini di luar topik).
Masa-masa SD yang cukup menyenangkan. Ada satu hal yang bisa aku ambil hikmahnya dari 6 tahun aku sekolah. “Hidup itu perlu bersaing dan berprogres.”
------
Lalu menginjak SMP, ketika aku mulai memahami bahwa aku perlu bersaing dan berprogres, hmm ternyata di SMP aku tahu bahwa “bersaing itu keras, berprogres itu sulit”.
Ada banyak keyakinan
dan usaha yang telah kamu coba lakukan untuk mewujudkan semua inginmu, namun di
satu sisi kamu harus melihat bahwa ada rintangan pula dari setiap jalan yang
kau ambil untuk meraih itu. Yaah, aku mulai menyadari bahwa, sepintar-pintarnya
kamu, ada yang lebih pintar. Oke, SMP aku termasuk yang standar2 saja, tidak
terlalu pintar seperti di SD dulu, tapi juga tidak turun drastis. Yaa hanya
masuk peringkat 10 besar di kelas, pernah si 3 besar. Tapi aku menyesal disitu,
karena memang sainganku sedikit. Hmm, bukankah lebih greget kalau saingannya
lebih banyak? Wkwk. SMP aku mulai seperti kebanyakan remaja lain, pernah jatuh
cinta, menghabiskan waktu dengan fb an di warnet, nulis quotes dengan bahasa
alien. Hahaha. Satu hal yang bisa aku ambil hikmah dari perjalananku di SMP “Jangan terlalu jatuh karena cinta”. Mungkin,
aku sempat menuliskan beberapa narasi tentang cinta ini (alay). Tapi yaa gimana
yaa, memang kaya gitu, aku juga bingung. Hmm.
Berlanjut
ke SMA, aku mulai bertemu dengan banyak tipikal orang. High school never ends.
Oke, entah kenapa masa SMA memang masa-masa yang paling-sangat-tidak-mungkin
untuk dilupakan.
Ketika tadi aku bilang “bersaing itu keras, berprogres itu sulit”, lalu aku bisa mengambil hikmah bahwa “semua butuh DUIT (Doa, Usaha Ikhtiar dan Tawakal)”.
Katakanlah memang persaingan itu keras dan
sengit, namun ingatkah bahwa kita masih punya Allah yang tak pernah
melepaskanmu sedetik saja. Ia mengawasimu. Selama hidup tentunya kau diajarkan
tentang bagaimana bertahan hidup, bagaimana menjadi seorang manusia yang
bermanfaat bagi sesama dengan tidak melupakan Sang Pencipta. Ketika kau
memiliki segala alat indera yang kau dapat gunakan untuk berusaha dan berdoa,
maka setidaknya kau bisa memperkecil tingkat persaingan yang keras dan sengit
itu. Karena apa? Karena kamu ada usaha. Pernah belajar fisika rumus
perpindahan? Ketika kamu ingin ada perpindahan (perubahan) kamu harus perbesar
usaha, bukan banyakin gaya. Lalu apa setelah kamu sudah berusaha? Kembali lagi
ke kata-kata tadi “.....dengan tidak melupakan Sang Pencipta”. Seberapapun
besar usahamu, kalau Allah sudah ga ridho yaa akan nihil hasilnya. SMA
mengajarkanku tentang berusaha hidup menjadi lebih dewasa, memahami situasi lingkungan,
bahwa hidup bukan hanya soal makan dan tidur. Aku termasuk tidak terlalu aktif
di SMA. Sempat kecewa juga, aku tidak begitu banyak ekstrakurikuler disini.
Ekskul yang aku ikuti yang membutuhkan pemikiran (KIR dan komputer). Aku mulai
menemukan jiwaku menulis di SMA ini, sempat aku mencoba mengirimkan karya puisi
dan cerpenku di majalah sekolah. Hmm, ingin rasanya aku punya antologi atau
novel sendiri.
Lalu
saat ini ketika usiaku sudah menginjak kepala 2, saat dimana awal Agustus nanti
aku sudah berkutat dengan judul skripsi, aku mulai berpikir, dari sekian
panjang perjalanan hidupku, sebenarnya aku bertumbuh menjadi sosok yang ingin
lebih baik dari diriku yang sebelumnya. Mungkin ada beberapa orang yang
memiliki sosok idaman yang menjadi role
model di hidupnya. Tapi lebih dari itu, sebenarnya kita berusaha untuk
menjadi diri kita sendiri dengan segala DUIT yang kita kerjakan. Diri sendiri
yang lebih baik dengan menghargai setiap proses kehidupan yang sudah dijalani.
Kaitannya dengan “jodoh adalah cerminan diri” apa btw?
Sekarang
ketika usiamu sudah menginjak kepala dua, dimana saat bicara tentang hakikat
cinta yang sesungguhnya adalah bukan sekedar kata-kata cinta yang membuai saja.
Kebanyakan dari kita mungkin mendambakan sosok pendamping yang rupawan,
soleh/solehah, baik hati, pokoknya yang idaman lah. Lalu pernahkah kita melihat
diri kita sendiri? Mari bercermin. Sudahkah layak kita menjadi pendamping dari “idaman”
yang kita dambakan itu. Das sollen das
sein. Ketika apa yang kita harapkan kadang tidak selalu sesuai dengan
kenyataan. Yaa memang benar. Kalau kelak kamu ingin didampingi oleh sosok “idaman”,
tentunya kamu juga harus berkaca, pantaskah aku menjadi sosok pendamping “idaman”
itu? Dengan segala perjalanan hidup yang telah kita lewati, aku yakin bahwa
kita semua berusaha untuk berpogres menjadi lebih baik, tentunya menginginkan
pendamping yang baik pula. Semoga saja kita selalu diberikan jalan kemudahan untuk
selalu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Hingga kita siap untuk
bercermin di waktu yang tepat nantinya.
Jadi sudah siap bercermin?
Purworejo,
28 Ramadhan 1438 H
07:50
WIB
Komentar
Posting Komentar