Langsung ke konten utama

Merealisasikan Mimpi

Tentang segala mimpi dan cita yang dulu sempat kurangkai, satu per satu kini bermetamorfosa menjadi realita. Segala pencapaian sampai detik ini semoga senantiasa membawa keberkahan. Jalani, nikmati dan syukuri. Semua sudah digariskan dalam rentang waktu yang tepat.


Siang hari di bulan Juli yang penuh cerita. Tak terasa perjalananku dari awal merantau ke Bandung sudah sampai di penghujung. Layaknya mahasiswa semester akhir kebanyakan yang menyusun skripsi dan mengejar dosen untuk bimbingan.  Hal tersebut tak luput setiap hari  aku dan teman-teman rasakan. Setidaknya ini upaya kami untuk membawa sebuah persembahan manis kepada keluarga di rumah. Lalu, akan jadi seperti apa kami kedepannya? Apakah gelar yang disandang hanya sekedar membuntuti nama? Atau akan  dibawa menjadi lebih bermakna?


Perkenalkan, mereka kawan-kawanku. Kami merintis menjadi maba bersama. Masing-masing dari kami tentu masih inget kepolosan dan keluguan dari anak sma baru lulus yang masuk kampus. Mereka paham betul bagaimana cara bertransformasi. Semakin dewasa semakin rupawan.



Sekumpulan perempuan-perempuan cantik ini adalah kawan satu kosanku. Satu keluarga yang tergabung dalam sebuah rumah berwarna hijau dengan kucing kosan yang bernama penelope. Masing-masing dari kami punya nomer kamar berbeda. Aku berada di kos ini dahulu hanya berdua dengan teman sma ku. Tapi semakin bertambah semester tambah pula orangnya. Beruntungnya aku ada mereka. Sebagai sebuah keluarga baru yang selalu berbagi apapun yang kami punya, walaupun hanya sekedar air putih saja misalnya. Masing-masing kami punya kepribadian berbeda, dan justru itu yang membuat semakin berwarna. Ahh, kenapa aku begitu cinta.



Berlanjut pada foto absurd diatas, kuperkenalkan kembali pada kawan-kawanku berorganisasi. Ahh lebih tepatnya kawan-kawanku yang spontanitas selalu wacana namun kenapa tetap cinta. Sebuah keluarga kembali aku jalin dengan orang-orang hebat ini. Dulu sempat kami begitu dekat, begadang tengah malam sampai ganti hari. Sering wara-wiri kampus untuk amanah yang dulu sempat kami ucapkan dan niatkan dari hati. Kehidupan mahasiswa nampaknya kurang berwarna apabila hanya duduk-datang-pulang. Kami mencoba melukisnya dengan duduk berpikir dan merealisasikannya bersama. Setiap hari selama satu periode setidaknya merekalah yang selalu aku jadikan tempat bertukar pikiran. 

Juli yang begitu dingin membawaku menemukan titik jenuh dalam dunia perkuliahan. Yaa memang sudah sepantasnya begitu. Kehidupanmu tak boleh stagnan. Kamu perlu tahu bahwa tak selamanya dunia menimangmu dengan keenakan. Perjuangan dan pengorbanan juga harus kamu praktikan. Katanya mau merealisasikan mimpi? Yaa ayo bangun dari tidurmu. Kebanyakan mimpi, nol aksi tak ada gunanya. Lekas cuci muka, berkaca dan dandan untuk keluar dari mimpi. 


13.07.18
20.49
Masih dari Dago Pojok

Komentar

Popular Posts

Narasi Hujan

Kudengar gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Aku masih kurang percaya, apa aku menjadi salah satu korbannya. Sejujurnya aku tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Aku lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu aku inginkan. Walaupun begitu, aku tidak sepenuhnya membenci cuaca ini. Setidaknya dulu ia pernah menghentikan aku denganmu dalam satu waktu. Aku malu karena akhirnya aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku kala itu. Betapa tidak. Aku tidak sepemberani anak yang lain ketika merasakan hujan. Aku cukup ketakutan sehingga aku selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Sekali lagi aku malu. Semua terlihat jelas di matamu. Tak banyak berkutik, a...

Memaknai Kehilangan

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang tentang penghambaan seorang manusia kepada Yang Maha Kuasa. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Menyadarkan bahwa kehidupan di dunia ini memanglah tiada yang abadi. Januari menjadi bulan yang berat bagiku. Bagaimana tidak? Ibuku yang teramat aku sayangi meninggalkanku. Sudah cukup waktunya berada di dunia hingga akhirnya beliau pamit untuk bertemu dengan Allah Sang Pencipta. Mungkin satu hal yang tidak akan aku sesali sepanjang hidupku adalah, di saat-saat terakhir beliau aku mendampingi selalu dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Maafkan putrimu bu, yang mungkin tak banyak memiliki waktu sebelumnya denganmu. Namun, janganlah bersedih ataupun kecewa bu, karena aku masih tetap sama menjadi putri kecilmu. Sampai detik ini pun aku masih selalu berusaha menjadi anak yang berbakti kepadamu. Senyum yang teramat cantik terkembang dalam balutan kain kafan ibuku. Mas Agung, suamiku, sempat berkata “Mamak udah tenang ndaa. Mamak cantik bang...

Semusim

Mengingat kembali kenangan pernikahan kami yang sederhana namun penuh makna. Desember tahun lalu menjadi bulan yang begitu berkesan bagi kami berdua. Butuh keberanian dan nyali yang tinggi saat akhirnya kami sepakat menikah di tahun kemarin. Kondisi kami berdua yang bekerja di luar kota dan jarak antar keluarga yang lumayan jauh menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sebuah mimpi sederhana saya ketika menikah adalah mempunyai gaun pengantin sendiri sehingga mempunyai kenang-kenangan tersendiri tentunya. Selain itu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikah didampingi dengan ibu saya, walaupun sebulan setelah pernikahan akhirnya beliau berpamit. Berbekal doa dan ikhtiar kami, pernikahan yang sederhana namun penuh makna bisa kami selenggarakan. Tepat setahun lalu, kami berdua menjadi sepasang suami istri. Target saya menikah di usia 25 tahun juga tanpa diduga bisa terlaksana. Alhamdulillah, berkat doa dan bantuan orang-orang baik di sekitar, kami bisa menyiapkan sep...