"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku
bersahabat penuh selaksa makna"
Tiada alasan untuk tidak mencintai
Yogyakarta. Ada banyak tempat yang mungkin akan aku singgahi. Tapi tempat ini
selalu membawaku untuk kembali. Yogyakarta menjadi saksi awal perjuangan aku
setelah lulus SMA.
Teringat dulu pertama kali aku ke Jogja
bersama teman-temanku. Aku Wulan, Widy dan Nita. Kami berempat yang masih
terlihat lugu, mencoba mengadu keberuntungan ikut tes seleksi salah satu kampus
kedinasan. Dalam satu minggu itu aku ikuti banyak seleksi masuk PTN.
Beruntungnya dulu aku dan bulikku survei dulu sebelum hari H. Kami akhirnya
menemukan orang yang baik, dengan keterampilan komunikasi bla bla bla akhirnya
aku dibolehkan untuk singgah disana semalam untuk persiapan tes. Wah
beruntungnya aku, kesempatan itu lalu aku manfaatkan untuk mengajak
teman-temanku agar bisa menginap disana. Tepatnya di salah satu warung burjo
dekat kampus di sekitar daerah Klitren, kami akhirnya menginap disana.
Hari H tes pun tiba. Hasilnya? Yaa kami
berempat tidak ada yang memberikan hasil yang diharapkan. Hahahhaa. Tidak
masalah. Entah kenapa setelah lulus SMA aku banyak belajar tentang kesabaran.
Kesabaran untuk menerima sebuah kegagalan, untuk pantang menyerah walaupun
sempat jatuh berulang kali.
Yogyakarta adalah tempat aku menaruh harap
walau memang kenyataan yang aku jalani saat ini tak menemukan aku dengan tempat
ini. Yogyakarta adalah kenangan manis dari perjuangan seorang anak yang
mencari kemana arah hidup setelah masa putih abu-abu selesai. Yogyakarta menjadi
satu dari sekian alasan aku harus kembali pulang walau telah merantau ke tempat
lain.
Aku banyak mengenal Jogja dari temanku.
Sahabatku yang sejak SMP kuliah disana. Sahabat-sahabat SMAku juga banyak yang
disana. Senang sekali ketika banyak temanku yang sering mengajakku untuk
keliling Jogja. Singgah ke tempat-tempat yang belum aku kunjungi. Setidaknya
aku tidak lagi menjadi anak rumahan. Jarang sekali aku dulu bisa bermain
keluar. Aku lebih banyak dirumah. Dahulu mungkin aku seorang yang introvert. Tapi
seiring berjalannya waktu, aku bergerak dinamis.
Aku seringkali berimajinasi. Waah coba yaa
kalau aku bisa kuliah di Jogja. Pasti aku bisa sering bertemu dengan
teman-temanku, tidak bingung ingin pulang kapan karena tidak perlu memesan
tiket jauh-jauh hari.
Tapi kini aku sadar. Aku mungkin diberikan
kesempatan lebih banyak daripada teman-temanku. Aku diberi kesempatan untuk
mengenal tempat baru, belajar budaya baru, belajar untuk mandiri jauh dari
orang tua. Banyak pengalaman sebetulnya ketika aku diharuskan merantau jauh.
Aku jadi tahu bagaimana aku harus mengelola keuangan ketika tanggal sudah tua,
bagaimana hectic-nya harus pesan tiket tanggal berapa ketika lebaran akan
tiba, dan tahu bagaimana rasanya rindu. Rindu keluarga, rindu teman-temanku, rindu
Yogyakarta.
Yogyakarta menjadi tempat pelipur penatku,
tempat melepas kejenuhan kuliah, menjadi kota yang selalu nyaman aku lihat dan
rasakan. Setidaknya ada hal lain yang tidak pernah aku temui di tanah rantauku.
Entahlah. Selalu ada kenyamanan yang aku rasakan saat aku berkunjung ke kota
ini.
Yogyakarta mungkin menjadi salah
satu wishlist daerah yang ingin sekali aku tinggali selain
rumahku sekarang. Semoga yaa, aku masih menunggu partner hidup yang akan aku
ajak berkeliling atau mungkin menetap di kota ini. :D


Komentar
Posting Komentar