Langsung ke konten utama

Bersyukur


Sebuah renungan bagi aku, kamu, dan kita semua yang sering mengeluh tentang sulitnya dunia...

Wahai kawanku, mungkin saat ini kamu sedang menopang dagu, memutar otak, mencari ide, tentang bagaimana kamu melanjutkan kehidupan. Banyak pikiran-pikiran yang satu persatu mengantri untuk dipikirkan. Mungkin tentang apa yang harus kamu makan esok hari, uang kiriman per bulan yang hampir habis, haruskah pulang ke kampung halaman menjenguk keluarga, bagaimana kelanjutan skripsimu yang sudah lama tak ada kabar, deadline tugas kuliah dan organisasi, atau hal lain semacamnya yang sering kita alami sebagai seorang mahasiswa.

Ada pelajaran yang menarik dari pengalaman praktik kuliahku kali ini. Yaaa, tentu saja. Banyak dari kita yang sering mengeluh tentang rumitnya lika-liku dunia, sedang aku kini dihadapkan pada persoalan orang lain yang mungkin sangat jauh lebih rumit dari permasalahanku sendiri. Bagaimana hati tidak tersentuh, tatkala seseorang yang lebih muda dariku mempunyai masalah laksana benang kusut. Kemudian, ia dengan polosnya tetap mengembangkan senyum. Bagaimana denganmu, yun?

Sebuah pelajaran bagi aku, kamu dan kita semua bahwa bersyukurlah pada setiap apa yang kau punya dan apa yang kau perjuangkan. Bahwasanya, ketika engkau rajin bersyukur, menikmati segala yang telah diberi oleh Yang Kuasa, tentu kau akan dapat sebuah ketenangan hati, kejernihan berpikir, dan sudah barang tentu kunci bagaimana jalan keluar dari setiap permasalahan. Setidaknya, engkau masih punya Allah yang selalu mendampingimu. Ada banyak orang yang mungkin saat ini sangat merindukan berada di posisimu. Beberapa orang mungkin berjuang untuk dapat setara denganmu. Beberapa orang dengan gigihnya masih memiliki semangat dan keyakinan, bahwa hidup harus terus berjalan bagaimanapun rumitnya.

Garut, 24 Oktober 2017
15:42

Komentar

Popular Posts

Narasi Hujan

Kudengar gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Aku masih kurang percaya, apa aku menjadi salah satu korbannya. Sejujurnya aku tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Aku lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu aku inginkan. Walaupun begitu, aku tidak sepenuhnya membenci cuaca ini. Setidaknya dulu ia pernah menghentikan aku denganmu dalam satu waktu. Aku malu karena akhirnya aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku kala itu. Betapa tidak. Aku tidak sepemberani anak yang lain ketika merasakan hujan. Aku cukup ketakutan sehingga aku selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Sekali lagi aku malu. Semua terlihat jelas di matamu. Tak banyak berkutik, a...

Memaknai Kehilangan

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang tentang penghambaan seorang manusia kepada Yang Maha Kuasa. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Menyadarkan bahwa kehidupan di dunia ini memanglah tiada yang abadi. Januari menjadi bulan yang berat bagiku. Bagaimana tidak? Ibuku yang teramat aku sayangi meninggalkanku. Sudah cukup waktunya berada di dunia hingga akhirnya beliau pamit untuk bertemu dengan Allah Sang Pencipta. Mungkin satu hal yang tidak akan aku sesali sepanjang hidupku adalah, di saat-saat terakhir beliau aku mendampingi selalu dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Maafkan putrimu bu, yang mungkin tak banyak memiliki waktu sebelumnya denganmu. Namun, janganlah bersedih ataupun kecewa bu, karena aku masih tetap sama menjadi putri kecilmu. Sampai detik ini pun aku masih selalu berusaha menjadi anak yang berbakti kepadamu. Senyum yang teramat cantik terkembang dalam balutan kain kafan ibuku. Mas Agung, suamiku, sempat berkata “Mamak udah tenang ndaa. Mamak cantik bang...

Semusim

Mengingat kembali kenangan pernikahan kami yang sederhana namun penuh makna. Desember tahun lalu menjadi bulan yang begitu berkesan bagi kami berdua. Butuh keberanian dan nyali yang tinggi saat akhirnya kami sepakat menikah di tahun kemarin. Kondisi kami berdua yang bekerja di luar kota dan jarak antar keluarga yang lumayan jauh menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sebuah mimpi sederhana saya ketika menikah adalah mempunyai gaun pengantin sendiri sehingga mempunyai kenang-kenangan tersendiri tentunya. Selain itu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikah didampingi dengan ibu saya, walaupun sebulan setelah pernikahan akhirnya beliau berpamit. Berbekal doa dan ikhtiar kami, pernikahan yang sederhana namun penuh makna bisa kami selenggarakan. Tepat setahun lalu, kami berdua menjadi sepasang suami istri. Target saya menikah di usia 25 tahun juga tanpa diduga bisa terlaksana. Alhamdulillah, berkat doa dan bantuan orang-orang baik di sekitar, kami bisa menyiapkan sep...