Langsung ke konten utama

#TentangSahabatku - Lestari

Aku ucapkan selamat merindu pada diriku sendiri di masa lalu. Saat menangis adalah satu-satunya cara ampuh untuk menaklukkan hati ibuku. Beruntungnya aku tidak sendiri. Sebelah rumahku ada gadis kecil yang usianya lebih muda  2 tahun dariku. Panggil saja lestari.
Secara sengaja kami dipertemukan untuk bersahabat. Ia asli Gombong, sedang Tambak adalah rumah kakek dan neneknya di Purworejo. Dulu waktu kami kecil pertemanan kami hanya sebatas main pasar-pasaran dan petak umpet. Aku dan tari adalah sosok anak kecil rumahan  yang akan dipanggil oleh ibunya tatkala sore hari masih belum  di rumah. 
Kami tidak pernah sama sekali bersekolah di tempat yang sama. Bagaimana mungkin kami bisa menjadi teman sekolah, Ia mengunjungi purworejo hanya jika libur semester atau hari raya saja. Tentu persahabatan kami hanya sekedar itu. Kalau saja kami berada di sekolah yang sama, maka dia adalah adik kelas 2 tingkat di bawahku.
Lambat laun kami tumbuh menjadi sosok perempuan dewasa. Banyak perubahan yang ada pada diri kami. Saat ini dia sudah menjadi seorang guru, sedang aku masih saja mengadu nasib di kota orang. Obrolan kami sekarang bukanlah tentang kapan waktu untuk bertemu, tapi tentang siapa nanti yang akan menikah lebih dulu.
Beruntungnya aku masih dikelilingi sahabat yang baik, salah satu rezeki yang Allah selalu beri kepadaku dan aku mensyukuri itu. 

Komentar

Popular Posts

Narasi Hujan

Kudengar gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Aku masih kurang percaya, apa aku menjadi salah satu korbannya. Sejujurnya aku tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Aku lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu aku inginkan. Walaupun begitu, aku tidak sepenuhnya membenci cuaca ini. Setidaknya dulu ia pernah menghentikan aku denganmu dalam satu waktu. Aku malu karena akhirnya aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku kala itu. Betapa tidak. Aku tidak sepemberani anak yang lain ketika merasakan hujan. Aku cukup ketakutan sehingga aku selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Sekali lagi aku malu. Semua terlihat jelas di matamu. Tak banyak berkutik, a...

TENTANG SAYA

Perkenalkan nama saya Eyun Setian. Saya berasal dari kota kecil sebelum Yogyakarta, yaitu tepatnya di Kabupaten Purworejo. Seorang mantan siswa jurusan IPA yang berkesempatan mengenyam pendidikan kuliah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Saya  astraphobia  dan sangat menyukai doraemon. Tertarik dengan desain grafis walaupun masih dalam tahap belajar. Begitu menyukai sastra sejak awal bangku sekolah. Penikmat semua lagu Sheila on 7. "Sedang berjuang membahagiakan orang tua dan merealisasikan banyak mimpi"

Semusim

Mengingat kembali kenangan pernikahan kami yang sederhana namun penuh makna. Desember tahun lalu menjadi bulan yang begitu berkesan bagi kami berdua. Butuh keberanian dan nyali yang tinggi saat akhirnya kami sepakat menikah di tahun kemarin. Kondisi kami berdua yang bekerja di luar kota dan jarak antar keluarga yang lumayan jauh menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sebuah mimpi sederhana saya ketika menikah adalah mempunyai gaun pengantin sendiri sehingga mempunyai kenang-kenangan tersendiri tentunya. Selain itu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikah didampingi dengan ibu saya, walaupun sebulan setelah pernikahan akhirnya beliau berpamit. Berbekal doa dan ikhtiar kami, pernikahan yang sederhana namun penuh makna bisa kami selenggarakan. Tepat setahun lalu, kami berdua menjadi sepasang suami istri. Target saya menikah di usia 25 tahun juga tanpa diduga bisa terlaksana. Alhamdulillah, berkat doa dan bantuan orang-orang baik di sekitar, kami bisa menyiapkan sep...