Langsung ke konten utama

Belajar dari Merantau



Aku diberi kesempatan untuk merantau cukup lama. Sudah 4 tahun lebih aku akhirnya tinggal jauh dari orang tua. Keputusanku merantau di Bandung mungkin adalah salah satu keputusan terbesar di keluarga. Sebelumnya jarang sekali saudara-saudaraku merantau sejauh ini. Mereka lebih nyaman untuk tetap berada di kota kelahiran atau hanya berkutat di sekitarnya. Aku memecahkan rekornya.

Mungkin merantau di Bandung adalah satu hal yang sangat berkesan bagiku. Kau tahu aku punya sahabat kosan yang satu frekuensi denganku. Namanya Milla Sustika Dewi. Selama kuliah kami belum pernah sama sekali satu kelas. Oh iya pernah sekali itupun saat aku mengambil mata kuliah semester 4 padahal dulu aku masih di semester 2. Aku bersama 5 orang temanku beraninya mengambil kelas bersama dengan kating haha. Tidak habis pikir kenapa dulu kami sepemberani itu. Yaa tak apa sudah terlewati dan beruntungnya aku jadi tambah banyak relasi.

Oh iya sebenarnya kami ini bersahabat karena aku dan Milla satu UKM. Yaa kami dipertemukan di UKM Dapur Sastra dan Teater. Hmm sebenarnya aku disini hanya fokus dengan bidang sastranya saja tapi ternyata di UKM ini juga dituntut untuk serba bisa antara teater dan sastra. Kami termasuk tidak terlalu aktif dan tidak terlalu pasif di UKM ini. Setidaknya kami mempunyai kegiatan lain selain kegiatan akademik di kampus.

Milla dulu mempunyai kos dekat dengan kampus. Tepat di depan kampus di Gang Dago Jati 3. Hanya butuh menyeberang jalan dan masuk ke gang sudah sampai ke kos Milla. Maka dari itu, aku seringkali bermain ke kosnya untuk sekedar main atau menunggu waktu masuk kelas siang. Semenjak aku ikut organisasi yang harus lembur rapat sampai malam, tak jarang kos Milla adalah salah satu tempat singgah favoritku. Sudah dianggap kosan sendiri malah haha.

Beranjak ke semester akhir, Milla akhirnya pindah ke kosanku. Yaa beruntungnya aku karena kini sudah tidak perlu jauh-jauh lagi kalau ingin berbagi cerita atau makanan. Kamar kami terletak di lantai 2. Dan di lantai 2 hanya ada kamar kami berdua saja beserta tempat jemuran. Jadi lantai 2 kosan Purba adalah tempat kuasa kami. Entah saaat ini siapa yang menempati dua kamar itu.

Kau tahu hal apa yang aku banyak belajar dari merantau? Hidup sebagai seorang mahasiswa selama 4 tahun mengajarkanku banyak hal.

Belajar mandiri jauh dari orang tua
Aku adalah anak bungsu. Posisiku sebagai anak perempuan membuat orang-orang terkadang melihatnya sebagai sosok anak yang dimanja oleh orang tuanya. Belajar dari merantau aku menyadari bahwa aku harus bermental baja. Tinggal jauh dari orang tua harus menjadikanku lebih dewasa dan tidak boleh cengeng. Setidaknya jangan sampai tunjukkan lelahmu dan sedihmu ke orangtua kalau memang  belum benar-benar klimaksnya. Ketika masalahmu bisa diatasi sendiri yasudah atasilah sendiri. Jangan terlalu menambah beban pikiran orangtua ketika kamu sudah beranjak menua. Kalau kamu pusing dengan masalahmu sendiri bagaimana dengan orangtuamu yang pasti akan lebih khawatir.


Mengelola keuangan
Semenjak masuk sampai ke semester 6 aku adalah mahasiswa yang diterima secara mandiri. Setelah semester itu, beruntungnya aku bisa mendapat beasiswa prestasi. Yaa setidaknya doaku diijabah di detik-detik akhir perkuliahan. Setidaknya sangat membantu karena di semester akhir ada penelitian dan praktikum yang juga butuh biaya. Aku tertolong, terimakasih Tuhan. Berkaitan dengan keuangan ini aku dan Milla adalah orang yang sama. Ketika dulu kiriman dari ortu telat, kami selalu berbaik hati dengan pekanya menawarkan apa yang kami punya. Beruntung setidaknya aku punya kawan yang tahu apa isi pikiranku bahkan sebelum aku bercerita wkwk. Bayangkan ketika kami harus membagi uang untuk kosan, makan, kebutuhan kuliah, kebutuhan organisasi dan tetek bengek lainnya. Aku dan Milla adalah orang yang sama ketika krisis moneter melanda. Harus pintar-pintar mengelola uang, mencari prioritas mana yang memang harus didahulukan untuk dibeli atau menunaikan puasa sunnah menjadi jalan yang sering kami lakukan.


Menjaga kesehatan adalah yang utama
Setumpuk kegiatanmu akan percuma apabila kamu tidak sehat. Aku tidak suka sakit karena nanti susah minum obatnya. Teringat dulu waktu aku sakit, Milla merawatku. Milla membelikanku makan, mengantarku ke dokter dan menungguku di kamar. Huhuhu aku terharu. Waktu Milla sakit aku juga begitu. Tapi sepertinya tidak seprotektif Milla. Wkwk. Oke, memang dalam urusan kesehatan, aku yang sering diomelin Milla. Milla layaknya ibuku. Ketika aku lupa makan karena banyak kegiatan, Milla adalah orang yang pertama kali akan memarahiku. Sebenarnya aku cukup terharu. Allah baik sekali denganku. Aku punya banyak teman yang lebih dari sekedar baik. Mau berteman dengan aku yang seperti ini.


Kuliah, Organisasi dan Refreshing adalah tiga serangkai
Terimakasih dulu ada temanku yang mengingatkanku tentang pentingnya mencari kesibukan selain belajar di kelas. Setidaknya aku menjadi banyak relasi dan pengalaman. Oh iya sebenarnya untuk refreshing aku adalah orang yang sangat jarang sekali untuk liburan. Aku dan Milla tidak sering bermain keluar. Hmm coba kita hitung berapa kali kita ke tempat wisata yaa?? Bisa dihitung dengan jari saja. Refreshing ku dengan Milla hanya berkutat di CFD an, ke gasibu, ke balkot, ke THR, ke BIP BEC. Jarang sekali kita nonton ke bioskop. Biasanya kita lebih menikmati untuk menonton film via laptop. Itupun aku harus ditemani, karena kalau tidak aku pasti akan ngantuk dan tidur duluan. Hahaha.


Pentingnya teman curhat
Ada banyak permasalahan mungkin yang akan ditemui selama merantau. Masalah tersebut terkadang perlu solusi. Beruntungnya aku mempunyai sahabat yang mau mendengar dan didengarkan. Kita tidak mungkin sendirian menghadapi segala permasalahan. Apa gunanya teman?  Terkadang kita juga harus mendengar saran dan perspektif orang lain untuk mengatasi masalah sendiri.

Ada banyak pembelajaran hidup yang aku dapatkan dari merantau. Tidak bisa aku suratkan semua, mungkin beberapa hanya sebagai pesan tersirat. Beruntung aku bisa melanglang buana ke tanah orang. Jiwa petualangku cukup tertantang.



 

  




  "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" - Pidi Baiq


-041119-












 

Komentar

  1. Dan ketika sekarang ditahun 2023 kubaca postingan ini... Aku merasa...
    Kangen? Wkwkwk
    Tetap semangat ya teman2 yg sekarang berjuang diperantau an...

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Narasi Hujan

Kudengar gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Aku masih kurang percaya, apa aku menjadi salah satu korbannya. Sejujurnya aku tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Aku lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu aku inginkan. Walaupun begitu, aku tidak sepenuhnya membenci cuaca ini. Setidaknya dulu ia pernah menghentikan aku denganmu dalam satu waktu. Aku malu karena akhirnya aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku kala itu. Betapa tidak. Aku tidak sepemberani anak yang lain ketika merasakan hujan. Aku cukup ketakutan sehingga aku selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Sekali lagi aku malu. Semua terlihat jelas di matamu. Tak banyak berkutik, a...

Memaknai Kehilangan

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang tentang penghambaan seorang manusia kepada Yang Maha Kuasa. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Menyadarkan bahwa kehidupan di dunia ini memanglah tiada yang abadi. Januari menjadi bulan yang berat bagiku. Bagaimana tidak? Ibuku yang teramat aku sayangi meninggalkanku. Sudah cukup waktunya berada di dunia hingga akhirnya beliau pamit untuk bertemu dengan Allah Sang Pencipta. Mungkin satu hal yang tidak akan aku sesali sepanjang hidupku adalah, di saat-saat terakhir beliau aku mendampingi selalu dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Maafkan putrimu bu, yang mungkin tak banyak memiliki waktu sebelumnya denganmu. Namun, janganlah bersedih ataupun kecewa bu, karena aku masih tetap sama menjadi putri kecilmu. Sampai detik ini pun aku masih selalu berusaha menjadi anak yang berbakti kepadamu. Senyum yang teramat cantik terkembang dalam balutan kain kafan ibuku. Mas Agung, suamiku, sempat berkata “Mamak udah tenang ndaa. Mamak cantik bang...

Semusim

Mengingat kembali kenangan pernikahan kami yang sederhana namun penuh makna. Desember tahun lalu menjadi bulan yang begitu berkesan bagi kami berdua. Butuh keberanian dan nyali yang tinggi saat akhirnya kami sepakat menikah di tahun kemarin. Kondisi kami berdua yang bekerja di luar kota dan jarak antar keluarga yang lumayan jauh menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sebuah mimpi sederhana saya ketika menikah adalah mempunyai gaun pengantin sendiri sehingga mempunyai kenang-kenangan tersendiri tentunya. Selain itu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikah didampingi dengan ibu saya, walaupun sebulan setelah pernikahan akhirnya beliau berpamit. Berbekal doa dan ikhtiar kami, pernikahan yang sederhana namun penuh makna bisa kami selenggarakan. Tepat setahun lalu, kami berdua menjadi sepasang suami istri. Target saya menikah di usia 25 tahun juga tanpa diduga bisa terlaksana. Alhamdulillah, berkat doa dan bantuan orang-orang baik di sekitar, kami bisa menyiapkan sep...