Aku adalah manusia biasa yang terlahir dengan kesederhanaan
cinta. Tumbuh berkembang menjadi anak bungsu kesayangan yang dikenal karena
kepiawaiannya sedari kecil. Keluarga sungguh mempercayai bahwa nantinya aku
akan menjadi sosok “orang”. Aku adalah kecil yang dipandang besar oleh sebagian
saudara.
Diriku kecil adalah sosok yang tidak terlalu banyak memiliki
kawan. Belum menemui arti sahabat saat aku masih belajar keluar dari zona
nyaman. Aku adalah anak yang akan mengembangkan senyum pada setiap kawan yang
mengajakku bersalaman. Namun, akan menjadi sosok yang penakut ketika banyak
teman sekelas laki-laki yang mengejek. Hal yang wajar tersebut tak ayal ditemui
dari sebagian kita saat masa kanak-kanak.
Aku tak cukup mudah bergaul saat remaja. Makna sahabat yang
aku temui saat remaja hanya bisa dihitung jari. Remaja adalah masa pasang surut
kelabilan anak-anak yang berbaur dengan romansa cinta monyet. Terlampau jauh
ketika anak sepertiku memikirkan indahnya kisah kasih di sekolah. Terlalu dini,
saat itu aku belum mampu memaknai kasih sayang dengan lawan jenis.
Saat sudah dewasa, sebagian besar dari kita seperti ingin
kembali ke masa kanak-kanak. Ya. Akupun juga ingin begitu. Dewasa memberikanku
banyak pelajaran dan permasalahan. Berbeda jauh dengan kanak-kanak yang diisi
dengan banyak canda tawa. Tak usah memikirkan banyak hal tentang hidup. Cukup
menjadi anak yang ceria, sehat dan pintar seperti sudah menggenggam dunia.
Merindukan masa-masa kenaikan kelas, libur semester atau kebanggaan saat bisa
diikutkan perlombaan antar sekolah. Hari Minggu masih nyaman dengan menonton
serial Doraemon setiap pukul 08.00 pagi. Setiap sore aku akan bergegas ke
Masjid dekat rumah mengaji sampai jam lima sore. Momen paling berkesan saat aku
akhirnya bisa khatmil Qur’an di kelas 5 SD.
Kebahagiaan yang aku temui saat masa kanak-kanak adalah
pengantar. Prolog dari sebuah buku kehidupan seorang Eyun Setian. Berlanjut ke
bab baru, ternyata kehidupanku layaknya wahana roller coaster. Cukup berwarna
seperti buku cerita anak TK. Hingga aku paham, berwarna tak selamanya memberi
suka, karena kelam bisa saja terbuat dari perpaduan banyaknya warna.
Perjalanan hidup membawa diriku mulai menggali makna hidup.
Proses pendewasaan yang aku peroleh dari studi formalku, atau dengan banyaknya
interaksi dengan sekitar menjadikanku berbeda dengan diriku tempo hari.
Ada satu sisi dimana aku bersyukur dengan waktu yang
membawaku sampai di titik ini. Menjadi dewasa itu cukup menantang. Mengeksplor
banyak hal membuat aku menyadari hakikat aku dilahirkan ke bumi. Mengapa akhirnya
setiap manusia harus memiliki banyak ilmu. Dunia tak selamanya baik, terkadang
terjal. kasar dan penuh bebatuan. Ilmu adalah cara kita melewati banyak liku
tersebut.
Kesempatan menjelajah memberi arti tentang perjalanan. Beruntung aku
bisa mendapatkan banyak pengalaman di berbagai kota. Bukan menjadi anak rumahan
yang terkurung karena pintu yang tak dibuka dan jendela yang tiada ventilasinya.
Aku lepas bebas terbang menikmati langit kedewasaan. Berbekal dengan doa ibu
yang selalu menyertaiku, aku tumbuh di tengah hiruk pikuknya kehidupan kota.
Globalisasi membawa dampak yang cukup signifikan bagi setiap
manusia, tak terkecuali bagiku. Teknologi memudahkan dan mendekatkan apa-apa
yang ingin kita ketahui. Kekhawatiran banyak muncul tatkala sebagian dari kami
yang masih awam dengan makna dewasa mencoba mendalaminya. Kemudian aku teringat
pesan Sunan Kalijaga yang dituliskan dalam Serat Lokajaya yang berbunyi
“anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli”
Kita boleh saja mengikuti arus kemajuan dunia, tapi kita
tidak boleh sama sekali kehilangan jati diri kita. Zaman berkembang, kita tidak
boleh larut dan tenggelam. Wong jowo ojo ngasi ilang jowone, kudu ngerti marang
sangkan paran dumadine. Satu pepatah yang akan selalu aku ingat dimanapun aku
berada.
Hidup semakin membawa ke peradaban yang lebih modern. Terlalu
banyak perihal duniawi yang sepertinya selalu ingin menggoyahkan keyakinan,
cita-cita dan tujuan manusia seutuhnya. Ujian terbesar bagiku saat dewasa ini adalah
ujian melawan diri sendiri.
Kebahagiaan saat masa kanak-kanakku ternyata adalah
manifestasi dari rasa cinta Tuhan terhadap umatNya. Kebahagiaan tak akan cukup
diungkapkan dengan kata-kata karena sejatinya kebahagiaan adalah apa yang
dirasakan. Pendewasaan dan penuaan usia memberi mata kuliah yang luas. Mengeksplorasi dan lebih merenungi hakikat tentang diri sendiri
seperti membuka cakrawala semesta. Tanpa disadari kutemukan selalu cinta Tuhan
pada setiap anak tangga kehidupan. Tertopang dan semakin kokoh dengan doa yang
selalu dipanjatkan oleh ibuku. Nyatanya, kini aku sudah menjadi “orang” dengan
pertolongan, rahmat, karunia dan ridho dariNya.
Perjalananku di dunia hanya sementara. Seperti menyeberangi
lautan dari hulu, derasnya air akan membawaku ke hilir jua. Permulaan selalu
menjadi pembuka sedang penutup pastilah akhirnya. Dunia sudah terlalu lama
melalui perjuangan panjang sejak awal mula diciptakan. Ujung kehidupan fana ini
masih sangsi kapan waktunya.
Maka oleh sebab itu, aku seringkali tertampar oleh setiap
malam yang aku renungi. Tujuan hidup sejatinya adalah kembali kepada pangkuan
Sang Illahi. Mengapa kiranya duniawi masih saja menjadi permasalahan? Pasang surutnya
iman nampaknya memang masih menjadi suatu hal yang tidak bisa terelakkan. Aku mencoba
membangun benteng pertahanan dan menguatkan segala tameng agar setidaknya aku
masih dalam haluan yang benar.
Masih banyak hal yang harus diperbaiki, dikoreksi, ditelaah, dan
direnungi. Mencari titik ketenangan dalam hidup sepertinya harus selalu aku
lakukan. Mengulang dan mencoba meyakinkan bahwa segala sesuatunya kembali
kepada keridhoan dan rahmat dari Tuhan.
Komentar
Posting Komentar